Krisis Financial Mulai Menggigit Sepak Bola (dan Kita)


Written on October 13, 2008 – 7:32 am | by sm4rter-guy
Dikutip dari Kompas, 11 Oktober 2008, L. Sastra Wijaya
(Digubahkan sehingga sesuai dengan materi blog)

 

[Dengan begitu banyaknya liputan sepak bola di media massa Inggris, rasanya penggemar sepak bola tidak perlu diingatkan lagi jika ada pertandingan. Apalagi apabila pertandingan itu melibatkan tim nasional Inggris. 
Namun, akhir September lalu, ketika akan berlangsung pertandingan persahabatan melawan Ceko di Wembley, iklan seperempat halaman dipasang di beberapa media massa di London, mendesak penonton agar datang. Harga karcis diturunkan menjadi hanya 30 poundsterling, padahal biasanya sekitar 50 poundsterling. 
Di babak pertama Piala Carling antara Arsenal dan Sheffield United, yaitu saat ”The Gunners” akhirnya menang telak 6-0, Arsenal juga memasang iklan, dengan karcis 5 poundsterling bagi anak-anak berusia di bawah 12 tahun. Padahal biasanya, karcis pertandingan seperti ini berkisar 20 hingga 60 poundsterling. 
Sudah bertahun-tahun iklan di media massa seperti itu tidak pernah ada karena pemberitaan sehari-hari sudah merupakan iklan gratis bagi klub sepak bola. Barangkali bedanya adalah krisis ekonomi dunia mulai meresap ke dalam dunia olahraga Inggris. 
Di depan kostum tim West Ham sekarang ini hanya dipasang nomor pemain. Ini menyusul bangkrutnya perusahaan biro perjalanan terbesar ketiga Inggris, XL, beberapa waktu lalu. 
Selain uang sponsor yang belum dibayar, West Ham sekarang harus juga menjual murah kaus replika klub tersebut. 
Menurut laporan harian Inggris, The Times, kaus itu sekarang dijual murah, sekitar Rp 180.000, dari harga resminya sekitar Rp 600.000. Itu pun tidak banyak yang membeli. 
”Sekarang pertanyaannya bukan apakah krisis ini akan melanda dunia olahraga atau tidak, sekarang tinggal kapan, di mana, dan siapa yang paling menderita,” kata John Taylor, Direktur Utama Sports Impact, sebuah konsultan masalah sponsor. 
Menurut berbagai pihak, sekarang ini karena berlangsung di tengah musim kompetisi, dampak krisis itu tidak begitu besar. ”Namun, semua itu baru akan tampak ketika sebuah kontrak harus dirundingkan kembali karena masanya sudah habis. Atau ketika diperlukan mencari sponsor baru.” lanjut Taylor. 
Klub Arsenal, yang dua tahun lalu pindah ke Stadion Emirates, dilaporkan kesulitan untuk menjual apartemen mewah yang dibangun di kawasan stadion tersebut. 
Dilaporkan banyak pembeli yang dulunya sudah memesan sekarang ingin merundingkan kembali harganya, ataupun membatalkan pemesanan sama sekali. 
Ini tidak mengherankan karena sebagian besar pembeli itu adalah investor dari sektor keuangan. Dengan kebangkrutan lembaga keuangan seperti Lehman Brothers yang memakan korban sekitar 4.000 karyawan di kota London, perasaan khawatir di kalangan perbankan membuat mereka mulai memikirkan investasi yang kurang esensial saat ini. 
Klub seperti Arsenal, Manchester United, atau Liverpool yang berprestasi cukup baik dan memiliki struktur bisnis yang mapan, mungkin tidak akan terlalu khawatir dengan krisis keuangan. Demikian juga dengan klub dengan pemilik miliuner, seperti Chelsea dan Manchester City. 
Namun, klub papan tengah yang tahun-tahun belakangan berambisi besar dan menghabiskan banyak dana untuk membeli pemain mahal sekarang harus memotong rencana tersebut. 
Krisis di tubuh Newcastle United juga disebabkan krisis ekonomi. Pemilik klub tersebut, Mike Ashley, sebenarnya ingin manajer yang sekarang sudah berhenti, Kevin Keegan, dapat mengikuti jejak Manajer Arsenal Arsene Wenger membeli pemain muda, murah, dan membina sendiri. 
Oleh karena itu, Ashley mengangkat mantan pemain Chelsea, Dennis Wise, untuk menjadi Direktur Sepak Bola klub tersebut, dengan tanggung jawab membeli pemain.

 

Pertentangan antara Ashley dan Keegan memuncak, menurut sumber di klub tersebut hal itu karena Keegan malah mengajukan pembelian pemain-pemain top, seperti Ronaldinho dan Kaka.

 

”Mike Ashley sebagai pengusaha tahu bahwa kami mesti berhemat. Eh Keegan malah mengajukan usulan pembelian pemain-pemain top yang sudah hampir berakhir kariernya. Kami tidak tahu apakah dia sengaja melakukan hal tersebut, supaya punya alasan untuk mundur.” 
Akibatnya, Keegan betul-betul mengundurkan diri dan Mike Ashley dipaksa untuk menjual klub tersebut karena banyak pendukung klub tersebut yang marah. 
Pendapatan utama Liga Utama Inggris adalah dari hak siar teve yang dipegang oleh BSkyB di Inggris. 
Menurut berbagai kalangan, mau tidak mau, dalam setahun ke depan, jaringan teve ini akan terpengaruh dengan jumlah pemasang iklan yang mau mensponsori mereka. Apabila mereka pun mengalami kesulitan keuangan dan tidak cukup banyak penonton hadir di stadion untuk mendukung klub mereka, di titik pertemuan itu sepak bola Inggris ada di jurang bahaya. 
Dalam beberapa tahun belakangan, yang sering muncul adalah kenaikan gaji para pemain Liga Utama dan koleksi mobil yang mereka miliki. Mereka adalah pihak pertama yang menikmati ketika ekonomi tumbuh pesat dan penonton memenuhi stadion. 
Menarik dilihat tahun depan, apakah klub terpaksa merundingkan ulang kontrak mereka, Porsche harus digadaikan untuk digantikan Toyota atau Honda. (L Sastra WijayaProduser BBC Siaran Indonesia di London)

 

http://bola.kompas.com/read/xml/2008/10/11/05053079/krisis.mulai.menggigit.sepak.bola

 

Membaca berita itu di koran Kompas, langsung saya robek dan mengingatkan untuk membuat posting baru sehubungan dengan masalah financial.

Saat bursa BEI disuspend sementara, banyak kepanikan yang terjadi di bursa saham. mereka yang bermain saham mengalami rata-rata penurunan investasi sampai minus 60-70% dari total dana mereka di bursa saham. Kepanikan jelas terlihat dari tindakan pemerintah yang memerintahkan untuk menghentikan sementara transaksi di bursa saham sampai waktu yang belum ditentukan. ‘Ini jelas bertentangan dengan semua komentar dan himbauan Presiden SBy untuk tidak panik’

Di sela kepanikan itu, muncul para pendapat sebagian kecil orang yang merasa bahwa…itu kan hanya krisis di dunia financial khususnya di bursa saham. Tidak akan menyeret bidang lainnya di Indonesia ini. ‘Oh ya?’

Banyak juga yang  berpendapat bahwa saya kan tidak ada investasi di bidang saham, jadi tidak akan terkena dampaknya. ‘Oh ya?’

Rekan-rekan, harus kita ketahui bahwa tidak ada bidang yang tidak akan terkena dampaknya. Semua akan tekena dampak meskipun tingkatnya berbeda satu sama lain. Karena ada hukum ’multiplier effect’- masih ingat kan waktu belajar ekonomi di SMU?

Mari kita lihat sama-sama apa dampak yang terjadi saat ini:

 

  1. Bursa saham yang lesu membuat sebagian sekuritas kesulitan likuiditas, bahkan ada yang sampai gagal bayar. Dampaknya jelas, sekuritas itu terancam tutup jika tidak segera diselesaikan….dan bayangkan berapa banyak karyawan yang terlibat di sana?
  2. Mereka yang tidak invest secara langsung di bursa saham kemungkinan sangat besar memiliki rekening reksadana, sebab reksadana begitu gencar dijual tidak hanya lewat sekuritas tapi juga kerjasama dengan perbankan. Masih ingat bahwa, pemerintah hanya menjamin dana masyarakat Rp 100 juta per rekening perbank? Jadi kalau dia punya dana lebih dari itu, apa sarana investasi lainnya? Jelas reksadana yang begitu gencar mengincar para nasabah (khususnya para pensiunan yang tidak pernah mengerti cara pengaturan keuangan, sehingga tidak pernah menyadari bahwa dananya di sana berkurang 40-60% hanya dalam waktu sekian bulan ini)
  3. Mereka yang tidak berinvestasi di bursa saham atau reksadana, pasti juga kena dampaknya karena sebagian besar memiliki asuransi unit-link (coba pikir, diinvestasikan ke mana dana itu? Jelas ke saham, rekan-rekan)
  4. Mereka yang tidak memiliki dana untuk asuransi apalagi berinvestasi apa dampaknya? Dampaknya jelas, mereka akan semakin sulit menghidupi dirinya sendiri sebab harga-harga akan naik sehubngungnan dengan inflasi akibat perubahan mata uang yang terus melemah. Di saat bank sentral negara lain menurunkan suku bunga, BI malah menaikkan suku bunga, akibatnya kredit akan semakin membengkak dan kemungkianan kredit macet akan terulang kembali.
Ulasan singkat di atas hanya menunjukkan bahwa, apa yang saat ini kita hadapi barulah awal dari sebuah gunung es yang belum terlihat. Kita sedang berlayar menuju badai..siap atau tidak kita harus menerjang badai tersebut. Karena itu, kencangkan sabuk pengaman dan mari kita lewati badai ini dengan selamat dan luka yang seminimal mungkin.
Bagaimana cara melewati badai ini? Simak posting berikutnya segera.
Achieving Your Best! 
Budi Suryanto
+62 818 93 2638


  1. 2 Responses to “Krisis Financial Mulai Menggigit Sepak Bola (dan Kita)”

  2.   By Tonny on Oct 13, 2008 | Reply

    Ko Budi, sudah jelas, awalnya yg kena sektor finansial, tapi 6-9 bln lagi, Insya Yesus, sektor riil akan kena imbasnya juga.

  3.   By Budi on Oct 25, 2008 | Reply

    Yupe….pasti begitu kok…

    Di US sektor riil dah kena imbasnya, banyak pabrik yang mengurangi kapasitas produksi serta merumahkan karyawannya. Kemarin baca koran, 10 % dari pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi juga akan mengurangi karyawannya….

    Wah wah….

    Kencangkan sabuk pengaman…..ready or not….the crisis comes!

Post a Comment