Luckily, I am A Smoker


Written on June 11, 2008 – 1:24 am | by sm4rter-guy

Judul yang menantang sekaligus
kontradiktif. Saya sengaja memberikan judul yang heboh begini karena bagi para
perokok, Anda akan masuk dan membaca posting ini. Bagi yang tidak merokok dan
kenal saya secara pribadi, Anda akan bertanya-tanya,” Sejak kapan Budi merokok?
Kok bisa jadi perokok?” n so on.

Sebelum lanjut, perlu ditegaskan
bahwa saya bukan perokok dan tidak merokok (minimal tidak merokok secara
aktif). Tetapi lingkungan kita sudah banyak menciptakan perokok pasif. Termasuk
diriku ini. Background keluarga saya dari Ortu, Papa saya merokok tetapi 6
putranya MEMILIH untuk tidak merokok.

Mengapa saya tulis MEMILIH, sebab
kami bisa merokok.
At least, saat SD pernah sembunyi-sembunyi merokok
bersama my big brother. Kemudian pernah merokok lagi waktu kelas 3 SMU dengan
rekor 7 batang dalam waktu 2 hari. Intinya kami bisa merokok tetapi MEMILIH
tidak merokok. BISA tetapi TIDAK MAU.

So, mengapa judulnya ‘Saya Beruntung sebagai Seorang
Perokok’, sebab meskipun sudah dikeluarkan larangan merokok di tempat-tempat
umum seperti di mall, sekitar perkantoran, rumah sakit, sekolah dan lain-lain,
tetap saja Jakarta (Indonesia) adalah surga bagi perokok.

Apa buktinya Jakarta
adalah surga perokok?

  1. Undang-undang yang ada tidak diperlakukan secara
         ketat. Banyak pelanggaran tanpa sanksi sama sekali. Sebagai
         sesama pengunjung di mall sekalipun kita sungkan untuk menegur para
         perokok.
  2. Tersedia ruangan khusus perokok di berbagai tempat,
         yang celakanya seringkali lebih mewah daripada kawasan bebas rokok.
  3. Digelarnya berbagai acara khusus bagi para perokok
         (yang disponsori oleh para produsen rokok tentunya).
  4. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perokok pasif
         justru menderita kerugian lebih parah dibandingkan perokok aktif. Jadi
         mengapa tidak menjadi perokok aktif sekalian?

So guys, dengan begitu banyaknya
kenikmatan untuk merokok, tidak salah kan judul posting ini?

Terus, memang ada kerugian dari kita
merokok?

Saya tidak akan membahas dari bidang
kesehatan, tetapi mari kita lihat dari segi finansial.

Apa saja nerakanya para perokok di
bidang finansial?

  1. Bau napas akibat rokok juga membuat pergaulan
         terhambat, sehingga networking tidak berjalan lancar. Berarti banyak
         potensi bisnis yang hilang akibat bau napas ini.
  2. Uang untuk membeli rokok yang kita bakar setiap
         harinya, jika diakumulasikan dan diinvestasikan secara baik akan
         menghasilkan aset yang sangat besar.

Asumsi 1 bungkus
rokok dihabiskan dalam waktu 2 hari. Maka 2 hari = 1 bungkus, 1 bulan = 15
bungkus. Jika harga rokok sebungkus kita anggap Rp 5.000,- maka sebulan kita menghabiskan
Rp 75.000,-. Jika kita investasikan ke dalam instrumen yang menghasilkan return
25% pertahun selama 25 tahun, maka hasilnya adalah Rp 1.781.620.619,- (satu
Milyar lebih bo!)

WOW! Bayangkan kalau 1 hari malah 1
bungkus rokok yang Anda habiskan. Dan saya yakin harga rokok lebih dari Rp
5.000,- perbungkusnya. Jadi sudah berapa mobil atau rumah yang anda bakar
selama ini?

Saya tidak melarang Anda merokok
karena itu hak asasi manusia (meskipun juga hak asasi bagi bukan perokok untuk
mendapatkan udara yang bersih dan bebas asap rokok). Saya hanya bisa menyentuh
Anda dari segi finansial mengenai berapa uang yang terbuang selama ini.

Terus, bagaimana solusinya?

  1. Yang terbaik tentu saja berhenti merokok, tetapi
         sisihkan uang rokok untuk diinvestasikan.
  2. Kalau tidak bisa (tidak mau) berhenti merokok, maka
         jangan mengeluh tidak bisa menabung karena penghasilan yang kecil atau
         pengeluaran yang terlalu besar.
  3. Ini yang paling menarik yaitu ’Jadilah Romantis à Rokok,
         Mangan (makan) Gratis..heheheh

Well saya hanya berharap Anda semua
bisa menjadi tipe 1 di atas atau menjadi tipe ke-4 .

Bagi bukan perokok…saatnya
menyisihkan dana untuk investasi anda….cia you!

Leonardus Budi Suryanto 0818 932638

Do Your Best and Let God Do The Rest!

 



  1. One Response to “Luckily, I am A Smoker”

  2.   By Agri on Jun 30, 2008 | Reply

    Waduhh, seharusnya Papaku baca ini, ya.. Beliau perokok berat! dan tentu saja yang menderita kami ini - anak2nya yang manis.. :). Sukses ya buat Pak Budi Suryanto..

    Budi’s Comment:
    Hahaha….wah wah…..semoga Papamu membaca ini…dengan cara kamu print dah tunjukkan hitungannya tuh….wakakak

    Pasti dijamin minimal rajin menabung meski tetap merokok…?

Post a Comment