The Wedding Gown


Written on May 14, 2008 – 11:31 pm | by sm4rter-guy

Ya…akhirnya hadir sebuah posting terbaru dengan tema yang baru juga. Membahas sisi marriage alias pernikahan or perkawinan.

Sebelum kita masuk ke topik utama, yaitu mengenai ‘the wedding gown’ alias gaun pengantin, kita bicara yang tidak penting terlebih dulu yaitu soal Menikah atau Kawin?

Sebagian dari kita lebih senang menggunakan kata Menikah daripada Kawin, padahal di Indonesia yang tersedia adalah UU Perkawinan dan tidak ada UU Pernikahan. :P

Yupe, intermezzo selesai. Kita bahas soal Gaun Pengantin sekarang. Menurut kaum hawa, seberapa pentingkah memakai Gaun Pengantin saat menikah? Kalau boleh saya mewakili kaum pria, gaun pengantin is not the most important thing in a marriage, it is not the most sacral thing! Jadi, menikah tanpa mengenakan gaun pengantin bagi pria is okay, hal yang wajar sebab upacara pernikahan itulah yang paling sakral, bukan membanggakan gaun tersebut.

Bagi wanita, memakai gaun pengantin adalah hal yang paling penting, karena saat itulah dia dinobatkan sebagai ratu sehari. Hm…akibatnya mencari gaun menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu dan dinantikan selain upacara pernikahan itu sendiri.

Kalau sudah begini, terus bagaimana? Saya adalah seorang pria yang memiliki pemikiran tidak penting gaun itu sampai tadi malam saat sedang berdiskusi dengan seorang ‘adik perempuan’ saya yang berumur 22 tahun. Bagi dia sendiri gaun pengantin itu bukan sesuatu yang penting, dan tidak mesti memakai gaun pengantin. Tetapi ada satu pernyataannya yang mengubah saya malam itu, yakni ‘Ko, saat diundang ke sebuah pernikahan di Hotel Bintang 5 misalkan, kan Koko bisa mengenakan jas. Ok lah dengan itu, tetapi apakah Cici bisa mengenakan gaun pengantin ke acara undangan itu? Tidak kan? Jadi kapan dia bisa memakai gaun pengantin, yaitu saat dia menikah. Bukan masalah menikahnya di mana, tetapi a moment of a life time itulah yang terpenting.

Saudara, pernyataan seorang gadis berusia 22 tahun itu yang membuat nantinya saya akan menemani calon istri untuk mencari dan memburu gaun pengantinnya.

Bagaimana dengan anda?



  1. 9 Responses to “The Wedding Gown”

  2.   By Fina on May 15, 2008 | Reply

    100% setuju dg adek loe…
    yeah…itulah manusia..br bs memahami klo sdh dengar dr sisi org tsb/gender tsb….qta g bs memaksa org mjd sesuai dg pandangan qta, dui bu dui?
    ^0^

  3.   By Budi on May 15, 2008 | Reply

    wakakakka, bukan gitu bu….tapi alasan yang dikemukakan itu tepat banget…
    Lagian selama ini orang cuma ngomong….ini kan seumur hidup sekali…tapi kan tanpa gaun juga bisa nikah…betul ga?

    setelah diceritakan soal ke kondangan itu….nah baru deh terbuka….heheheh

  4.   By Vera on May 21, 2008 | Reply

    alo bud…pa kabar? ga nyangka ya da makin sukses aja he3x… congratz ya!!!
    btw kpn neh marriednya? he3x…jgn lupa undangannya ya…
    BTW,’bout ur topic…I’m agree with u…emang kayak gitu pemikiran cewe, once in a lifetime…krn moment itu special bgt, gue aja nyarinya susah bgt, mau hunting dr skrg he3x…

  5.   By Budi on May 25, 2008 | Reply

    Hahaha, Ver…..dah berburu dari sekarang???

    Hm…..berarti mesti dapat undangan segera donk ya….wakakakak

  6.   By Tonny on Jun 2, 2008 | Reply

    Tergantung Bud..
    Gue batasin topiknya bahwa gue menganggap adek lu beli wedding gown nya, bukan sewa.

    Kalo emang ada duit lebih, en ga menganggu kehidupan lu setelah pesta kawin, ya silakan.

    Cuma kebanyakan di Indonesia ini adalah ideologi bahwa kawin itu intinya ada pada pestanya, gada duit pun bela2in utang, or bikin pesta seadanya, itupun mengharapkan BEP dr uang angpau. Setelah married? Urusan besok, biarlah besok makan batu yg penting kawin harus di pestain. Gue ga setuju !! Married is the thing that u present to God, not to others.

    Budi’s Comment:
    Thanks banget Ton…betul yang lo bilang bahwa terjadi banyak orang yang ga hitung dulu keuangannya, sehingga besar pasak daripada tiangnya….

    Mau married tapi ga perhitungan dulu.

    Gw juga setuju bahwa Marriage itu sangat suci….tetapi sudutnya sesekali tulis yang ringan kali Ton…heheheh

  7.   By Ling2 on Aug 13, 2008 | Reply

    Hehehe…. tu rasain lu! Adik kamu emang piiiinteeerrrr!
    Emang begitulah pemikiran cewe atau saat ini i lebih suka menyebutnya “wanita”. Wanita ingin saat wedding menjadi saat terbaik dalam hidupnya, ia ingin tampil sesempurna dan secantik mungkin, dengan gaun yang sempurna yg tak bisa dipakenya di pesta2 lain, demikian pula dengan hal2 lain seperti undangan, dekorasi, dll, semuanya (tergantung bugjet tentu) ingin seindah yang bisa dicapainya, karena “that is the MOMENT of her life” atau ratu sehari atau apapun sebutannya…………

    Btw sedikit menyimpang ya, masak reviewmu tentang the mummy sejelek itu???

    Budi’s Comment:

    Hahahha, iya tuh ‘adik’ gw emang bijak nian…hehehe
    Jadi mengerti bagaimana harus bersikap…habis gimana donk, kan kita bukan orang romantis -rokok mangan gratis…hehehe

    The Mummy…ya begitulah…ga mungkin aku nonton sekali lagi tuh…..aduh, sorry ya kalau reviewnya mengecewakan…tapi red cliff ampe 3 kali tuh nontonnya, heheheh

  8.   By Fina on Aug 19, 2008 | Reply

    and sumtimes…..wedding party tuh jd ajang gengsi, tmsk gengsi para ortu. sm kayak wisuda deh….hrsnya g perlu prosesi klo gw blg…tp kan ortu perlu..buat nunjukin anaknya dah sarjana…hahaha
    percuma aja klo hsb gt byk yg jd pengangguran :P
    Budi’s Comment:
    Hm…entah apa yang mesti dikomentari…
    soal pesta perkawinan karena ortu (untunglah ortuku ga dan begitu juga ortu dia)

    Soal sarjana yang menganggur setelah wisuda….sepertinya itulah tugas kita membangkitkan entrepreneurship ya…heheheh

  9.   By Raya on Feb 23, 2009 | Reply

    Kalo aku setuju banget kalo wedding itu harus polllllll he he

  10.   By sm4rter-guy on May 13, 2009 | Reply

    Hahahah…yupe…jadi kerja keras 3 tahun…habiskan dalam sehari ya…heheheh
    :)

Post a Comment