Rahasia Kedua untuk Kaya!
Written on June 18, 2007 – 8:37 am | by sm4rter-guy
Hai semuanya, terima kasih untuk response yang masuk baik dari comment di blog, telepon maupun yang bertemu secara langsung dan menodong untuk melanjutkan pembahasan mengenai money and finance ini. Terima kasih untuk semua dukungan anda, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menyokong berlanjutnya blog ini dan berlanjutnya keinginan untuk berhasil menjadikan ini sebuah blog yang bisa membantu kita semuanya. Semoga!
Setelah tertunda sekian bulan (atau tahun ya?), saya melanjutkan rahasia kedua untuk kaya ini dengan sebuah cerita nyata yang baru saya alami. Kisah yang mungkin dikenal dan dialami oleh sebagian diantara anda. Dalam perjalanan saya dari STIE IBII tadi, saya sengaja menumpang sebuah taksi yang melintas. Dan seperti biasa, saya mengajak sang sopir untuk berbincang-bincang. Biasalah ya, pertanyaan seputar bagaimana kabarnya, kondisi keluarga dan sebagainya.
Dari Pak Joko (nama sang sopir, bukan nama taksinya tentu saja :P), saya mengetahui bahwa dia memiliki 4 anak, cewek, cowok,cowok, cewek. Maaf, yang cewek sudah menikah dan sudah punya anak semua. Dari sepanjang perjalanan Sunter ke Pademangan, saya langsung memutuskan untuk melanjutkan kolom money n finance saya, sebab dia bercerita mengenai anaknya yang menikah di usia sangat muda, hanya 22 tahun (MBA, ofcourse). Dia sendiri juga menikah di usia yang muda, 21 jalan 22 katanya.
Nah, yang jadi persoalan adalah anaknya ini masih dalam kondisi serba kekurangan. Kalau cucu Pak Joko sakit, minta subsidi ke pemerintah pusat alias ke Pak Jokonya. Kalau kurang uang susu, minta lagi ke atas. Pokoknya minta melulu deh. Sementara kerja hanya asal-asalan. Iya kalau Pak Joko banyak uangnya, tapi apakah anda tahu berapa penghasilannya? Dia mendapatkan maksimal Rp 60.000,00 perhari. Dengan catatan, 2 hari kerja 1 hari libur (libur terpaksa, tentu saja…karena armada taksi yang kurang dibandingkan jumlah sopir yang ada), sehingga uang yang diterima adalah Rp 120.000,00 per 3 hari. Jatuh-jatuh perhari hanya Rp 40.000,00 saja. Bisa terbayangkan dia harus menghidupi keluarga dengan uang segitu saja, sebuah jumlah yang bagi sebagian dari kita habis begitu saja kurang dari sejam kalau ke mall.
Pak Joko banyak cerita mengenai anaknya, yang kalau lagi susah cari, tetapi kalau lagi dapat uang…….tidak pernah memikirkan orang tuanya. Waduh….jangan sampai kita juga jadi kayak gitu yah? Nah, Pak Joko sempat cerita bahwa tahun 2003, anaknya sempat dapat pesangon sebesar Rp 7,5 juta. Disarankan untuk ambil tanah, dengan cara kredit seluas 180m2. Waktu itu harga tanahnya sebesar Rp 150.000,00 permeter. Bahkan Pak Joko menawarkan untuk menanggung sisanya kalau anaknya nanti tidak sanggup mencicil, tapi nama di akte tanah itu tetap nama anaknya.
Ide itu ditolak, karena sang anak lebih memilih membeli ini dan itu. Saya tersenyum dan bertanya ke dia, pasti barang elektronik ya? Dia menjawab iya, jadi uang pesangon itu dipakai untuk membeli tv, vcd, alat-alat salon, dan sebagainya. Hasilnya sekarang ini sudah rusak semua, sementara harga tanah yang akhirnya dibeli oleh Pak Joko sendiri sekarang sudah naik menjadi Rp 250.000,00. Naik lebih dari 60% dalam waktu 3 tahun!
Saya prihatin dengan kisah tersebut, tapi saya hanya bisa menyimpan dalam hati saja. Tanpa terasa, sudah sampai Pademangan dan saya turun di depan gang n langsung masuk n mengetik kisah ini. Saudara-saudaraku yang tercinta dan terkasih! Kira-kira apa yang menjadi rahasia kedua dari menjadi kaya? Setelah rahasia pertama, yaitu kita harus memiliki KEINGINAN YANG JELAS mengenai apa yang kita inginkan.
Rahasia kedua juga amat sederhana, yaitu : BERANI MENUNDA KENIKMATAN kita. Apa pokok permasalahan dari keluarga Pak Joko tadi? Tanpa bermaksud untuk menghakimi, yang terlihat jelas adalah anak-anaknya tidak bisa menunda kesenangan atau kenikmatan. Karena tidak tertunda, berakhirlah di pernikahan dini sekali. Karena serba tidak siap, maka hanya sengsara yang terjadi. Begitu juga saat menerima uang pesangon tadi, mereka langsung membelanjakan semuanya untuk barang-barang elektronik, yang begitu kita beli langsung turun nilainya.
Coba saja beli hp. Setelah beli, buka segelnya…kita pergi bawa ke toko lain untuk kita jual…harganya sudah turun sekian persen. (mungkin saja mereka tidak tahu mengenai hal itu Bud). Hm…menurut saya meskipun mereka tahu, mereka tetap akan membelinya……soalnya susah sih yang namanya menahan kesenangan dan menunda kenikmatan. Gak percaya? Lihat saja betapa banyak orang yang kena kasus kartu kredit akibat tidak menunda kesenangan.
Memang tidak mudah untuk menunda kenikmatan kita. Dari pengalaman saya, ada 2 tipe manusia berkaitan dengan hal ini. Tipe yang pertama adalah mereka yang tidak bisa menunda kenikmatan sama sekali. Biasanya mereka yang dibesarkan dalam kondisi manja. (Ingat, saya mengatakan dibesarkan dalam kondisi manja, bukan kaya. Sebab banyak juga yang dilahirkan dalam keluarga kaya tapi tidak dimanjakan). Karena terbiasa mau apa pun, ada yang memberikan akhirnya dia selalu berpikir bahwa tanpa menunda pun dia bisa mendapatkan segalanya. Akhirnya hanya mencari mudahnya saja.
Tipe kedua adalah mereka yang bisa menunda kenikmatan sementara. Bukan menghilangkan loh, hanya postponed….alias menunda. Selain karena mereka mempelajari bahwa untuk mendapatkan sesuatu mereka harus membayar harganya, kekuatan menunda kesenangan terjadi karena mereka memiliki tujuan jangka panjang yang jelas dan tentunya lebih nikmat daripada sesuatu yang dia nikmati saat ini. Hm………..anda paham kan maksud saya.
Nah, itulah sebabnya kita harus memiliki tujuan yang sangat jelas untuk jangka panjang kita…..dan buatlah tujuan kita itu memiliki kenikmatan tiada taranya. Sebagai contoh, saya berkeinginan untuk bisa menikmati hidup yang sebebas-bebasnya dalam arti bebas secara finansial dan waktu di usia 40tahun.
Saya ingin meniru mentor saya yang bisa menikmati itu semua di usia 35 tahun saat ini. Beliau adalah pengusaha yang sangat rela menunda kenikmatan selama 12 tahun pertamanya, saat ini beliau adalah milyarder muda. Jika anda juga ingin belajar dari mentor saya ini, segera dapatkan buku dan DVD pelatihannya di Gramedia. Cari buku yang judulnya ’Anda Ingin Sukses, Selama Tidak Berdosa, Lakukan!’.
Saya belajar secara intens dengan beliau khususnya selama setahun terakhir ini. Saya mempelajari banyak filosofi dan rencana tindakan yang harus dilakukan supaya juga bisa mencapai kebebasan finansial dan waktu. Salah satunya, saya harus bisa menunda kenikmatan sementara supaya kenikmatan yang jauh lebih bebas bisa saya nikmati.
Tapi Bud, kalau menunda terlalu besar kan susah? Betul….tapi bisakah anda meluangkan uang anda sebesar Rp 100.000,00 perbulan untuk diinvestasikan? Misalkan kalau kita mulai menyisihkan Rp100.000,00 perbulan mulai bulan ini, kita investasikan ke sebuah investasi bernama reksadana saham. Jika kita hitung tingkat pengembalian adalah sebesar 30% pertahun, selama 25 tahun kita lakukan terus menerus. Tahukah anda maka uang kita akan menjadi Rp 6,755 Miliar lebih!!!!
Cukup untuk kita pensiun dan jalan-jalan ke luar negeri. Untuk anak gimana? Nah, untuk anak urusan lain, saya hanya menunjukkan kekuatan dari yang namanya menunda kenikmatan sementara. Karena kalau kita hanya lakukan itu selama 10 tahun saja.
Jadi kalau kita hanya menyisihkan Rp 100.000,00 perbulan selama 10 tahun dengan tingkat bunga 30%, maka uang kita hanya terkumpul Rp 75,2 juta saja. Jauh kan bedanya? Supaya mudah untuk menyisihkan uangnya, anggap saja setiap bulan, kita beli pulsa Rp 100.000,00 dan hilang terpakai. Jadi gak usah dipikirkan terlalu banyak…ok?
Hm….akhir kata……Maukah anda menunda kenikmatan sementara demi kenikmatan yang tiada tara nantinya? Keputusan ada di tangan anda!
Leonardus Budi Suryanto 0818 932638 Do Your Best and Let God Do The Rest!.
4 Responses to “Rahasia Kedua untuk Kaya!”
By Denny on Jun 20, 2007 | Reply
Terima kasih bapak budi.
Tulisan anda sungguh sangat mencerahkan saya.
Ditunggu edisi-edisi selanjutnya.
-Regards-
Budi’s response:
Okay deh….semoga bukan hanya mencerahkan tapi juga bisa menggerakkan untuk berbuat lebih baik lagi….
Btw, diterapkan loh yah..kan sayang kalo dah ditulis tapi gak diterapkan..heheh
By Erwin on Jun 21, 2007 | Reply
Kasian bgt tukang taksi nya..
Ko kapan ol di ym, bnyk yg mau di ceritain neh.
Budi’s response:
Yupe…jujur aja saya sepanjang perjalanan merasakan hal itu…tapi gimana donk…..dah terlanjur salah pendidikan anak….
Hm….kamu bel dulu hp koko yah kalo ol, siapa tahu bisa ol bareng…ok???
By Susana on Jun 24, 2007 | Reply
Tulisan yang sangat bagus.
Kapan2 ngadain pertemuan yang membahas soal reksadana donk…:p
Budi’s response:
Thanks Susan…..
Mengenai pertemuan yang bahas reksadana…kayanya harus diadakan di luar kantor kali yah…habis nanti kesannya jualan satu produk tertentu….kan gak enak….apalagi gak dibayar ama tuh perusahan, hehehe
Soal pengaturan keuangan kan dah pernah dibahas dalam DMC…..mungkin next akan ada lagi deh….OK?
By aulia on Jun 30, 2007 | Reply
MAU>>>>! walaupun pastinya susah menahan nafsu membelanjakan uang, klo mengetahui gain yang bakal didapet, wuih2.. ayo kita tunda kesenangan bersama2 =)
Budi’s response:
Seandainya semua orang punya semangat kaya lo Au……dijamin dalam waktu paling lambat 10 tahun dari sekarang………Indonesia tambah maju….jauh dari sebelumnya nih…hehehhe
Mari maju bersama….(kaya slogan salah satu partai…:P)